IPINDO di Bawah Prof. Hadi (Dosen MM UNPAM): Melesatnya Inseminator Muda sebagai Pilar Swasembada Ternak
Published on: 15 Jul 2025

Penelitian
Dalam langkah strategis untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional yang tangguh dan berkelanjutan, Ikatan Peneliti dan Inovator Pemerintah Indonesia (IPINDO) menyatakan komitmen penuhnya untuk mendukung lahirnya Inseminator Muda Mandiri. Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Harian IPINDO, Prof. Dr. Drs. Hadi Supratikta, MM, saat menjadi narasumber dalam Semiloka dan Short Course Rekrutmen 1000 Inseminator Muda Pembaharu di Hall Pascasarjana KH Abdur Rahman Wahid Unisma, Sabtu lalu.
Prof. Hadi Supratikta menyoroti bahwa di tengah tantangan pangan global dan ancaman terhadap populasi ternak lokal, diperlukan langkah konkret. Menurutnya, salah satu upaya nyata adalah memperbanyak tenaga inseminator muda yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kemandirian untuk membangun usaha produktif berbasis peternakan rakyat. Konsep kemandirian ini menjadi kunci agar program inseminasi buatan tidak hanya bergantung pada dukungan eksternal, melainkan menjadi roda penggerak ekonomi di tingkat akar rumput.
"IPINDO bersama MyDesa Institute berkomitmen penuh mendukung gerakan percepatan ini, serta pendampingan teknis berkelanjutan," ujar Hadi Supratikta. "Kami yakin, dengan memperkuat SDM inseminator muda yang mandiri, swasembada bibit ternak unggul bukan lagi mimpi." Pernyataan ini menegaskan keyakinan IPINDO bahwa dengan sumber daya manusia yang terlatih dan berdaya, Indonesia dapat mencapai kemandirian dalam penyediaan bibit ternak berkualitas.
Lebih lanjut, IPINDO tidak bergerak sendiri. Dalam upaya menyukseskan program 1000 Inseminator Muda Pembaharu, IPINDO menggandeng berbagai pihak. Kolaborasi strategis ini melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, koperasi, dan komunitas peternak. Keterlibatan multi-pihak ini memastikan program berjalan komprehensif, mulai dari rekrutmen calon inseminator, pelaksanaan semiloka yang membekali mereka dengan pengetahuan teoritis, hingga short course yang memberikan keterampilan praktis. Program ini kini tengah bergulir secara nasional, menunjukkan skala ambisi dan dampak yang diharapkan.
Inisiatif ini bukan sekadar pelatihan teknis; ini adalah investasi jangka panjang dalam ekosistem pangan nasional. Dengan menciptakan tenaga-tenaga inseminator muda yang tidak hanya terampil dalam teknologi reproduksi ternak tetapi juga memiliki jiwa wirausaha, diharapkan terjadi percepatan peningkatan kualitas dan populasi ternak. Pada akhirnya, hal ini akan berujung pada terwujudnya ketahanan pangan yang tidak hanya kuat menghadapi tantangan global, tetapi juga berkelanjutan dari hulu ke hilir.




